PLN Rugi Rp12,17 Triliun Dipicu Tekor Kurs Dolar AS

JAKARTA – Awan kelabu yang menyelimuti PLN pada tahun ini ternyata makin tebal. Pasalnya, meskipun pendapatan meningkat,  tren kinerja negatif keuangan PLN secara keseluruhan pada tahun ini berlanjut. Hingga sembilan bulan 2020, PLN menderita kerugian hingga Rp12,17 triliun.

Dalam laporan keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia terungkap, kerugian PLN pada sembilan bulan tahun ini lebih besar dibanding periode yang sama 2019 yang tercatat merugi Rp10,8 triliun.

Kerugian PLN tersebut disebabkan tingginya rugi kurs mata uang asing yang mencapai Rp22,8 triliun. Padahal, di periode yang sama tahun lalu, rugi kurs perusahaan setrum ini hanya Rp4,3 triliun.

Kerugian PLN cukup disayangkan karena sebenarnya penjualan listrik dan pendapatan hingga kuartal III di tengah pandemi Covid-19 yang positif.

PLN mencatatkan peningkatan penjualan listrik hingga kuartal III sehingga mendorong peningkatan pendapatan usaha. Penjualan tenaga listrik hingga September 2020 tercatat sebesar 181.638 GWh atau bertumbuh  0,6% dibanding periode yang sama 2019 yang mencspqi 180.570 GWh.  Hal ini menjadikan pendapatan dari penjualan tenaga listrik PLN sampai dengan September 2020 mencapai sebesar Rp205,1 triliun, bertumbuh 1,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dimana perusahaan membukukan penjualan tenaga listrik sebesar Rp202,7 triliun.

Secara keseluruhan, selama kuartal III 2020, PLN mampu membukukan pendapatan usaha sebesar Rp212,2 triliun meningkat sebesar 1,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang membukukan pendapatan usaha sebesar Rp209,3 triliun.

Agung Murdifi, Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN,  mengatakan peningkatan penjualan tenaga listrik didorong adanya pertumbuhan jumlah pelanggan perseroan menjadi sebanyak 77,9 juta hingga 30 September 2020 atau meningkat sebesar 3,4 juta pelanggan dibandingkan dengan posisi 30 September 2019 sebesar 74,5 juta pelanggan. “Peningkatan penjualan listrik pada sektor rumah tangga dan industri pertanian serta industri UMKM ikut mendorong pertumbuhan penjualan yang positif,” kata Agung, Selasa (27/10).

Sementara untuk Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization (EBITDA) perusahaan sampai dengan kuartal III tercatat sebesar Rp55,9 triliun dengan EBITDA Margin sebesar 22,5%.(RI)

Sumber : dunia-energi.com